Telkom-Telkomsel Tolak Tarif Baru Simetris, Operator Lain Setuju

Category : Teknologi

Hai Sobat Wali Reload, gimana kabarnya hari ini ? Alhamdulillah ya kalau sehat semuanya. Pada kesempatan kali ini kami akan membahas mengenai “Telkom-Telkomsel Tolak Tarif Baru Simetris, Operator Lain Setuju”.

JAKARTA, KOMPAS.com – Dua operator pelat merah, PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) dan Telkomsel, mengaku keberatan dengan hasil penghitungan tarif baru interkoneksi yg dikeluarkan pemerintah pada 2 Agustus lalu. Dua perusahaan “induk-anak” tersebut merasa diperlakukan tidak adil karena penghitungannya memakai mekanisme simetris.

Menurut Direktur Utama Telkom, Alex Sinaga, penghitungan simetris mulai masuk akal seandainya seluruh operator telah seimbang dalam berinvestasi. Jika belum, penghitungan simetris cuma mulai merugikan operator yg susah payah membangun infrastruktur hingga ke pelosok.

“Ada yg membangun hanya di kota, ada yg membangun sampai ke pelosok, masa perlakuannya sama?” kata Alex dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi 1 Dewan Perwakilan Rakyat RI, Kamis (25/8/2016) di Gedung Nusantara II, Komplek Dewan Perwakilan Rakyat Senayan, Jakarta.

Hal tersebut diiyakan Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah. Ia meminta pemerintah menghitung ulang tarif interkoneksi secara asimetris.

“Harus dipertimbangkan secara komprehensif berdasarkan biaya yg dikeluarkan tiap operator,” ia menuturkan.

Menurut Surat Edaran yg dikeluarkan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), tarif interkoneksi mulai turun rata-rata 26 persen menjadi Rp 204 per menit. Angka itu masih bersifat sementara hingga keputusan akhir ditetapkan pada 1 September mendatang.

Biaya interkoneksi adalah komponen yg harus dibayarkan oleh operator kepada operator yang lain yg menjadi tujuan panggilan penggunanya. Sebelumnya, biaya ini disepakati Rp 250 per menit.

Menurut penghitungan tarif interkoneksi 2016 Telkomsel berdasarkan nilai investasi, tarif interkoneksinya justru harus naik Rp 280 per menit. Jika turun Rp 204 per menit dengan mekanisme simetris, maka Telkomsel mulai merugi senilai Rp 76 per menit.

Telkomsel secara resmi sudah mengajukan surat keberatan terkait tarif baru interkoneksi yg ditetapkan Kemenkominfo tersebut.

Di yang lain sisi, XL Axiata, Hutchison 3 (Tri), Smartfren, dan Indosat tidak keberatan dengan mekanisme penghitungan pemerintah yg memakai sistem simetris. Mereka sesuatu suara bahwa keputusan Menkominfo telah lebih baik dari ketetapan interkoneksi sebelumnya meskipun belum sesuai ekspektasi.

“Kami sebenarnya berharap tarif interkoneksi mampu lebih turun di angka Rp 65. Tapi upaya pemerintah menurunkan ke angka Rp 204 sangat kalian apresiasi,” kata Direktur Utama XL Axiata Dian Siswarini, di sela-sela rapat.

Hutchison 3 dan Smartfren pun seiya sekata. Keduanya yakin Kemenkominfo telah melakukan penghitungan yg adil berdasarkan 17 kali meeting formal dengan seluruh operator.

Di samping itu, CEO sekaligus Presiden Direktur Indosat Ooredoo tidak sependapat dengan penghitungan asimetris versi Telkomsel. Ia menyampaikan terminologi asimetris di dunia global seharusnya membuat operator dominan mengalah dengan operator kecil.

“Asimetris di global pada dasarnya menjaga iklim kompetisi agar yg dominan dan kecil tidak terlalu jauh gap-nya. Kalau di sini pengertian asimetrisnya beda,” kata Alex ketika ditemui KompasTekno usai RDP, Kamis petang.

Anggota Komisi 1 Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi PAN, Budi Youyastri menganalogikan penghitungan interkoneksi sebagai ajang “rebutan kue” antar-operator. Dalam hal ini, Telkomsel milik kue paling besar dengan bantuan backbone dari Telkom.

Sementara itu, operator yang lain hanya mendapat kue secuil dan ingin merebut porsi berlebih Telkomsel. Alih-alih memandang polemik ini dari segi bisnis, Budi justru mengutamakan dampaknya untuk rakyat.

“Kalau interkoneksi turun, operator kecil harus turunkan tarif retail dan bangun jaringan di pelosok. Kalau Telkomsel merasa rugi, Kemenkominfo lebih baik membeli seluruh infrastruktur Telkomsel. Supaya seluruh kembali sama,” ia menuturkan.

Biaya interkoneksi sendiri yaitu salah sesuatu komponen yg menjadi dasar tarif ritel yg dikenakan pada pelanggan. Selain interkoneksi masih ada unsur lain, seperti margin keuntungan yg diharapkan operator dan biaya promosi.

Kemarin, Komisi 1 Dewan Perwakilan Rakyat RI telah memanggil Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara bagi membahas pro kontra interkoneksi. Divisi legislatif tersebut meminta Rudiantara tidak buru-buru memutuskan tarif karena harus disepakati seluruh operator. (Baca: Soal Interkoneksi, Menkominfo Tak Bisa Ikuti Kemauan Semua Operator)

Sumber: http://tekno.kompas.com

Gimana sob artikelnya tentang Telkom-Telkomsel Tolak Tarif Baru Simetris, Operator Lain Setuju, Semoga bermanfaat untuk seluruh Sobat Wali Reload di seluruh Indonesia ya.

Avatar for Pulsa Murah

Author: 

Related Posts